Showing posts with label kertasburam. Show all posts
Showing posts with label kertasburam. Show all posts

We Are Not Afraid of Death, We Are Afraid to Leave Without Saying Goodbye

"We're not afraid to death. We are afraid to leave without saying goodbye."

Photo from: Flickr

A few days ago I heard a news from Grandma that my nanny when I was a kid passed away last month. Nobody told us when she passed away, Grandma knew when she visited her house in Sukabumi and when she asked about my nanny to the neighbors, they told her that Bibi (that's how I called her) has passed away last month. Grandma told Mum, and Mum told us a few days later after she was back from Sukabumi.

We are shocked and sad.

Nobody could believe when people they knew suddenly passed away. It's been a very very very long time never heard about her, never seen her, never try to visit her house when we're in Sukabumi. Last time I met her was high school I guess. She wasn't work for us anymore, she was just visited my house while she was in my town. And she met my first boyfriend, and she said he looked like some Indonesian soap opera actor hahaha.

There were very tough year for her. When one of her son passed away. The son who was ill that time because he fell down from tree, who gave her reason to leave my family. And we met her son, he couldn't sit, couldn't talk, even breathing was hard for him I guess. The son that she brought to our home once when I was a kid, sister usually fought with him because of some toys. God had plan, God took him. She was back to my family but she wasn't as strong as she used to. And she left again. And her other son worked for my dad, and he left my dad, and he tried to suicide. She was a widow, divorced from her husband. Can't believe how hard her life back then. And finally somebody told us that she became a traditional wedding singer in her village. I think she was happy. Grew old with her daughters and sons and grandchildren and didn't work as maid anymore. She successfully educated her daughters and sons became a worker, not a maid like her.

She taught me a lot. She was like my secondary parents at home. She took care of me and my sister. She was the one who taught me that "Don't think too much about small things". She helped my parents rise me. Suddenly I remember the song that she always sing, it wasn't dangdut music, it was religious music. I remember she asked if she can keep the cassette for herself or not, and my sister gave it to her. The lyrics was like "Sepohon kayu daunnya rimbun, lebat bunganya serta buahnya. Walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya? Walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya?" ("A leafy tree, with a lot of flowers and fruits. What's the purpose of living if you're not pray though you live for a thousand years?"). I will always keep that on my mind and my heart, Bik.

Some people said that it's better if people died because of illness, at least we are ready if someday they're gone. At least they are saying goodbye. At least we are saying goodbye.
She never say goodbye to us. That's why in my religion we should have to keep 'tali silaturahmi' to all people we know.

One day when I was a kid, I promised to her that I will give her a gift when I grown up and already have job someday. And now, this is the Someday. I don't get a chance to do my promise because she's already gone. I told my Mum about this and she said just give the gifts to her daughters and sons and grandchildren. Yes I will. And I pray for her, may God forgive all her sins, may God accepts all her pray, may God gives her the best place in heaven. Amen.

I also remember once she said "We shouldn't cry at the funeral. But I don't know why the tears always comes." Now I understand what she meant. Because no one saying goodbye when they are gone. Even saying goodbye is not enough. Because there're no "See you later" in the end of the phrase.
0

Ice Eyes

Photo from Tumblr

Mereka bilang jatuh cinta rasanya luar biasa. Mereka benar. Dunia seperti jauh lebih  indah. Hidupku yang biasanya hanya berisikan warna hitam, putih, dan abu kini berubah  menjadi berbagai macam warna setiap matamu terlintas dalam benakku. Yang tidak mereka  beri tahu adalah tidak setiap cinta yang dinyatakan akan mendapatkan balasan yang  setimpal.

Tidak ada yang bilang dia begitu menarik. Tapi ia memikatku setengah mati. Matanya  tenggelam di balik buku-buku usang kesukaannya, hidungnya bersembunyi di balik kelopak  bunga lily, bibirnya bersembunyi di balik cangkir berisikan chamomile tea, telinganya  bersembunyi di balik headset yang sedari tadi memutar lagu-lagu The Cardigans tanpa  henti, dan sosoknya bersembunyi di balik rak-rak buku tua. Namun sekali tanpa sengaja  aku melihat matanya yang tidak ditutupi oleh buku, sedang menari-nari membaca setiap  judul buku yang tersedia di rak. Aku jatuh cinta.

Tidak ada yang bilang dia begitu menarik. Tetapi tidak sulit bagiku untuk jatuh hati  padanya. Hidupnya seperti carnaval yang begitu berwarna-warni, cerita-ceritanya selalu  menarik, khayalannya begitu hidup. Ia begitu hidup. Ia seperti seseorang dari planet  lain. Setidaknya planet yang berbeda denganku.

Tidak sulit untuk jatuh hati padanya. Hanya perlu melihat matanya dalam-dalam, kemudian  kamu akan terjatuh. Tetapi tidak dengan memilikinya. Ia membangun tembok-tembok tinggi  dalam dirinya dengan pemikiran-pemikiran yang sempurna. Aku yakin tidak semua orang  dapat menghancurkannya. Ia membangun gunung-gunung es yang besar dengan dingin hatinya,  aku yakin tidak semua orang dapat melelehkannya. Tetapi aku tahu, hanya perlu setetes  keyakinan, setetes canda yang melebur padanya untuk melelehkan gunung-gunung es  tersebut. Dan hanya segenggam keteguhan serta pengetahuan untuk menghancurkan  temboknya.

Dan orang itu bukan aku. Aku tahu itu. Tidak setiap cinta menghasilkan warna yang sempurna. Tidak setiap cinta meluluhkan.
1

Tidak Perlu Cari Aku Ke Laut Atau Ke Gunung


Aku berhembus, melewatimu. Menyejukkanmu. Aku melebur bersama udara, memelukmu, membelai rambutmu. Menyejukkanmu. Sudah terbiasa.
Kamu tidak peduli.
Tubuhku ringan, berhembus, menjauh. 
Lalu kamu mencariku, ke laut, ke gunung. Kamu tidak menemukanku.
Aku disini. Aku bukan bayangan yang bisa kamu tangkap. Aku tidak terlihat. Kamu tidak rasa. 
Aku selalu disini, berhembus, memelukmu, membelaimu, menyejukkanmu.
Tak perlu cari aku ke laut, ke gunung, karena aku selalu disini. Kamu hanya perlu bersyukur untuk menemukanku.

0

Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam

Sahabatku, usai tawa ini izinkanku bercerita..
Telah jauh, kumendaki
Sesak udara diatas puncak khayalanJangan sampai kau disana

Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku di sini

Yang hanya ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik: "Pandang aku, kau tak sendiri, oh, Dewiku"
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang Itu saja kuinginkan


Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji
 
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik: "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku.."
Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi

"Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi"

"Orang... yang begitu tahu aku sakit... mau pukul berapa pun langsung datang. Keinginan itu... tidak ketinggian kan?"

"Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam."

"Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku.
'Kamu sakit?' Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas.
'Ya.'
'Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?'
'Ya.'
Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih."

(Curhat Buat Sahabat, Rectoverso, Dee Lestari)
0

Aku tidak mengerti mengapa Tuhan ciptakan wanita begitu kuat.
Tuhan beri ribuan pedih pada syaraf-syarafnya demi melahirkan seorang manusia

Aku tidak mengerti mengapa laki-laki begitu rapuh ketika kehilangan wanita yang dicintainya.
Apa karena mereka telah kehilangan tulang rusuknya? Tulang rusuk yang membantu menopang dada dan bahu mereka. Tulang rusuk yang melengkapi rangka mereka.
Aku tidak mengerti mengapa Tuhan ciptakan wanita begitu kuatnya.
Beratus-ratus kali mereka di hancurkan oleh laki-laki, berjuta-juta kali mereka di hancurkan oleh anak-anaknya, namun mereka tetap menjadi rumah pulang bagi suami dan anak-anaknya.
Mereka yang pelukannya selalu didamba oleh suami dan anak-anaknya
Mereka yang tatapan teduhnya selalu dinanti oleh suami dan anak-anaknya

Aku tidak mengerti kenapa Tuhan ciptakan wanita begitu lembut namun sebegitu kuatnya
Air mata mereka yang jatuh, melebur dengan hamparan kelembutan hatinya, menguatkan, sebegitu kuatnya
Apa karena mereka diambil dari tulang rusuk laki-laki?
Atau itu memang alasan Tuhan menciptakan mereka?
0

Sepenggal....

"Kau bukanlah yang terbaik untukku, karena kau tak bisa melumpuhkan hatiku, kau hanya sepenggal kisah dalam waktu..."
0

That's All

You can have tons of dreamguys, but there's only one real guy. The realistic one.


With you, is the combination of dream and reality. Because you're imperfect and no happily ever after. You just make me grateful with what we have.

picture from: mymodernmet.com
0

A Thousand Journey


Innsbruck. Kamu tentu tau tujuanku. Kereta ini membawaku dari St. Anton am Arlberg Station ke Innsbruck Stubatial Station. Kepalaku menempel pada jendela kereta, kunikmati pemandangan di sampingku. Perjalanan ini sudah seperti perjalanan meninggalkan masa lalu.

Masa lalu. Buatku si kepala batu, masa lalu bukan sesuatu yang harus kulupa. Kekeuh, aku merasa bisa membiarkan masa lalu hanyalah sebuah kenangan semu nan dingin. Semakin sakit, semakin kuingat. Layaknya luka di tubuhku, semakin aku bergerak, semakin terbiasa. Perjalanan di kereta ini seperti sebuah perjalanan yang tepat mengenangnya kemudian menyimpannya rapat-rapat. Tapi nyatanya, ke sok-tahu-an-ku malah menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Aku malah terhanyut, larut, tenggelam bersama kenangan-kenangan itu. Layaknya udara Eropa hari ini, kenangan-kenangan itu dingin, namun aku rupanya tak pernah kuasa untuk beranjak. Masih dengan kepala batuku, menurutku ini proses. Manis pahit aku terima, kadang aku tersenyum, kadang rasanya teriris. Aku masih percaya bahwa sebenarnya aku melangkah perlahan, seperti mencoba berenang ke permukaan. Aku pikir dengan kabur ke benua yang berbeda dapat lebih mudah untuk menerima, ternyata tidak juga. Malah rasanya dua kali lipat. Rindu tapi tak dapat ku jamah, perih namun tak dapat ku tahan.

Rupanya lebih perih mengingat mimpi-mimpi yang pernah kau bangun dibanding mengingat satu potong kisah yang membuat mimpimu hancur lebur. Aku tersenyum hampa tiap bayangan itu mampir, kurengkuh tubuhku sendiri, rasakan hatiku menciut. Fikiranku terus mendikte hatiku, bahwa kenangan itu memberi tahu bahwa betapa naifnya aku dulu. Perasaan yang murni antar lawan jenis hanyalah fantasi setiap anak perempuan. Akan ada saatnya itu datang pada kita, dengan cara yang berbeda, realistis, murni, dan bukan hanya romansa serta fantasi. Dia, ksatria dalam fantasiku itu, sudah menemukannya. Dan aku malah lari, dengan alasan untuk melangkah ke depan, ternyata langkahnya lebih cepat daripada langkahku.

Kereta berhenti sebentar di Ã–tztal railway station. Aku membuka jendela dan mengeluarkan kepalaku. Aku butuh oksigen lebih banyak setelah apa yang kualami sepanjang perjalanan. Kurasakan partikel-partikel O2 yang masuk ke paru-paruku. Kupejamkan mata dan menarik nafas lebih dalam, kuhadapi dinginnya Eropa di depanku, kurasakan semua partikel-partikel itu bereaksi cukup cepat pada kenangan-kenanganku. Bak trailer film yang scene-scene nya berubah dengan cepat, sangat cepat. Aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku disana. Aku menoleh. Jantungku melonjak, seperti mau keluar dari dadaku. Aku merasa hatiku rasanya seperti menyusut. Mataku mulai berkaca-kaca.

Dia. Ksatria dalam fantasi masa mudaku. Berdiri disana, mengabaikan rokoknya, menatapku tak berkedip. Waktu seperti berhenti. Hanya ada aku dan dia, dan kami hanya berpandangan. Aku sibuk menata laju darahku. Perlahan kereta berjalan. Aku masih menatapnya nanar. Ia berlari, berusaha mengejar keretaku, matanya masih menatapku, seolah tak ingin terlewatkan lagi. Aku pun tak bisa membendung air mataku lagi. Hingga akhirnya ia tak kuat mengejar laju keretanya. Ia berhenti, matanya tegas menatapku, ia menyerah, saat itu. Aku masih menatapnya dari kejauhan hingga ia hilang dari pandanganku. Semakin deras, semakin keras pacuan jantungku. Memang kenangan pedih itu bangkit, tapi mereka hanyalah kutu-kutu kecil dibandingkan secercah harapan di depanku. Aku yakin harapan itu ada.

Dulu aku merasa mimpiku tidak direstui Tuhan. Kuyakinkan diriku mimpiku hanyalah bagian dari fantasi masa mudaku. Aku kabur untuk melangkah, mengobati, menerima. Ternyata Tuhan hanya menundanya, merubah fantasi itu menjadi realita.

"They say when you meet the love of your life, time stops, and that's true. What they don't tell you is that when its starts again, it moves extra fast to catch up." -Big Fish
0

1-70

Kalau hidup kita terdiri atas puluhan atau ratusan lantai, apa yang akan kita lakukan?

Sudah sekian lama ia membuntutiku. Aku tidak suka! Dia seperti serangga pengganggu bagiku. Akan tetapi, meski dia serangga, dia tak beracun. Keberadaannya hanya mengganggu ruang gerakku. Dan kini ia duduk bersama dengan orang tuaku, menikmati makanan penutupnya. Wajah kesalku tak dapat kututupi, dan dia tak peduli. Seakan aku ini hanyalah angin sore yang berhembus di sampingnya.

Bagi orang tuaku, ia bukan serangga. Ia malah seperti rintik hujan yang membasahi pekarangan kami yang gersang. Ia memang tak bertingkah seperti serangga pengganggu di depan orang tuaku, itulah mengapa orang tuaku menyukainya. Tetap saja bagiku dia tak lebih dari seekor serangga. Matanya seolah selalu menangkap keberadaanku, senyumnya seolah merusak zona nyamanku. Dan aku terjebak disini karena orang tuaku. Sebisa mungkin aku mencari alasan untuk keluar dari area ini.

***

Aku berlarian mencari elevator dan menuruni puluhan bahkan mungkin ratusan anak tangga. Dan sekarang aku jatuh dari plafon reyot. Kulihat itu barisan buku-buku tua di rak, mataku kemudian berputar mencari pintu keluar. Aku menemukannya! Aku pun berlari membukanya dan menemukan tangga lagi. Dengan cepat aku menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu dan berputar itu.

Nafas ku tersengal-sengal seperti habis diburu macan. Aku melewati tumpukan kardus-kardus yang berserakan di beberapa anak tangga terakhir. Ini..... warung sushi? Familiar sekali. Seperti milik keluargaku waktu...... dulu. Memori! Ya, aku yakin ini adalah memoriku! Aku ingat betapa kerasnya hidup kami waktu itu, sehingga kami harus bergonta-ganti bisnis kecil dan menjadikan lantai paling bawah rumahku sebagai tempat umum. Tempat kami mencari nafkah. Hatiku rasanya bagai tersengat listrik. Teringat bagaimana bahagianya keluarga sederhanaku.

Aku pun menuruni anak tangga terakhir. Minimarket. Ini adalah minimarket kami. Kulihat seorang gadis disana, membereskan tatanan makanan di rak pendingin. Umurnya mungkin sekitar 17 tahun. Kemudian datang seorang pemuda seumurannya. Tersenyum melihatnya, menarik nafas, kemudian menyapanya. Senyum kecil lembut, matanya memancarkan rasa yang tidak akan pernah mati. Namun gadis itu membalas sapaannya dengan ketus. Pemuda itu tidak mengacuhkan kekasaran gadis tersebut. Malah sebaliknya, ia menggoda gadis tersebut. Si gadis semakin marah dan mengusirnya. Matanya masih terpaku pada gadis tersebut, bibirnya menahan rasa yang makin merekah dalam dadanya, yang keluar hanya sesimpul senyum. Ia menyerah, hari itu. Kemudian pemuda itu keluar dan meninggalkan si gadis pemarah. Gadis itu tidak peduli. Tidak pernah peduli. Karena ia tidak pernah mengerti rasanya. Hatiku terenyuh melihat scene tadi.

Pemuda itu mungkin menyerah hari itu. Namun ia tak pernah menyerah hingga detik ini. Meski gadis itu tak pernah peduli atau mencoba peduli, meski gadis itu tak pernah mengerti, meski gunung es yang dibangun gadis itu tak pernah mencair. Tidak sedetikpun pemuda itu menyerah. Namun setelah hari ini, ia berjanji akan menyerah. Karena gunung es itu tak pernah mencair sampai beberapa menit yang lalu, sekalipun kobaran api yang ia buat sangatlah besar. Sekali lagi, aku terenyuh. Jika ini sebuah film, pasti akan keluar musik latar beralunan gitar akustik dan hujan yang turun.Tapi ini hanyalah memori. Ini adalah lantai paling dasar. Aku tau harus kemana aku melangkah sekarang. Kembali. Dan mereka ada di lantai 70, sementara elevator disini hanya sampai lantai 30. Giliran aku yang harus berjuang.

Aku sudah di lantai 30, aku menaiki ratusan anak tangga, nafasku memburu, aku tak boleh menyerah. Bertahun-tahun ia tak menyerah, meski aku tak pernah memberikan balasan yang sepadan. Aku melewati orang-orang yang berlalu lalang di tangga. Ini baru lantai 50. Aku menemukan elevator lain di sudut gedung, di samping sebuah restoran siap saji. Aku menunggu di depan elevator itu. Mataku memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar tangga. Kemudian suara ibuku memanggilku. Lega sekali rasanya menemukan mereka bertiga. Seperti telah mencapai finish di sebuah perlombaan lari. Aku menghampiri mereka. Kami akan segera pulang.

Kutatap matanya dalam-dalam, kubalas senyum kecilnya. Degup jantungku tak dapat kutahan temponya. Mereka berlomba-lomba mengetuk rongga dadaku seperti ingin keluar dari tubuhku. Nafasku memburu, bukan karena berlarian menaiki tangga. Inikah rasanya? Rasa yang ia rasakan ketika ia pertama kali melihatku di supermarket itu? Ia tersenyum lebih lebar dari yang sebelumnya. Kutatap lagi matanya. Mata itu yang pertama kali memandangku berbeda dengan perempuan lainnya. Mata itu pula yang membuat aku yakin bahwa aku sedang merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan waktu pertama kali ia bertemu denganku. Perjuangannya selama 5 tahun ini terbayar sudah.
0

H-1

Mana mungkin aku rusak sesuatu yang utuh dan kokoh seperti itu. Penyesalanku akan lebih besar jika aku merusak kebahagiaanmu, dibandingkan aku mengutarakan semua yang ada di benakku. Bukan, bukan aku membiarkanmu bahagia meski bukan denganku. Aku tak yakin kamu memilihku. Karena aku tau kamu, aku kenal baik kamu. Ketika kamu menemukan keyakinanmu, hatimu kokoh bak karang.

Dulu aku datang terlalu cepat, dan kini aku terlambat. Takdir tidak pernah melabuhkannya padaku. Bukan aku tak pernah berusaha untuk meraihnya, entah memang takdir ataukah aku yang memang begitu bodoh ketika harus berhadapan denganmu. Aku mungkin mimpimu, tapi aku bukan keyakinanmu.

Hei, kamu cantik malam ini. Ini adalah malam terakhir aku bisa menikmati senyum dan tawa tanpa penyesalan. Aku tak mau mengeluarkan kalimat picisan seperti; 'bahagiamu, bahagiaku juga'. Tapi aku tak bisa menahan senyumku ketika melihatmu menangis penuh haru. Besok adalah awal kehidupanmu yang baru. Ada garis tegas yang membatasi kita. Semoga kamu selalu bahagia.
0

Grow A Day Older

"We both laugh and hang up after exchanging sweet nothings, like 'take care' or 'take it easy, dear' or 'have a great day'. It was never my style, but he had unknowingly taught me this by just being himself - a naturally polite and thoughtful guy. His prince charming attitude had somehow infected me. We still have our bitter sides that we share from time to time, and that's what I love the most about our connection. For me, a perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun. We're like that dark chocolate bar where you can have four at once without getting jittery."
Grow A Day Older, Rectoverso by Dewi 'Dee' Lestari
0

Bree


Bree wanted a divorce, but Orson did not. Then he acts like the best husband in the world. Now, Bree cheated on him. Now I feel like I was Bree. Should I cheated on him too? So he will fed up and decide to leave me? .................................no that's stupid.
0

Ten Things I Hate About You


I hate the way you talk to me, and the way you cut your hair. I hate the way you drive my car. I hate it when you stare. I hate your big dumb combat boots, and the way you read my mind. I hate you so much it makes me sick; it even makes me rhyme. I hate it, I hate the way you’re always right. I hate it when you lie. I hate it when you make me laugh, even worse when you make me cry. I hate it when you’re not around, and the fact that you didn’t call. But mostly I hate the way I don’t hate you. Not even close, not even a little bit, not even at all.

--Kat Stratford, '10 Things I Hate About You'
0

Jakarta-Bekasi Hari Ini

Dan aku kembali menjejakkan kakiku ke sebuah bus hijau tak ber-AC. Dengan jok yang sudah usang, di sebelah bapak tua. Masih setia dengan bakinya. Entah apa isinya. Besar, penuh, menghalangi jalan.
Kemudian anak laki-laki. Mengamen. Hanya bermodalkan botol aqua dan beras. Selesainya, ia tertawa dan bercanda dengan temannya. Tersenyum. Polos. Menggoyang-goyangkan recehan di dalam bungkus kertas yang ia dapatkan hari ini. Katanya hari ini dia dapat banyak. Banyak? Itu hanya recehan, sampai 5 digit juga tidak. Miris kalau mengingat candanya dan senyum polosnya. Merasa tersentil. Kita? 5 digit saja dibilang sedikit.

Kemudian di belahan Jakarta yang lain. Anak-anak remaja, merengek-rengek meminta gadget baru. Dengan nominal harga lebih dari 7 digit. Merengek-rengek ingin beralaskan kulit dan label. Merengek-rengek ingin belanja sesuatu yang baru demi kebutuhan tersier mereka. Berpesta, hilang kesadaran hanya karena satu atau dua teguk air 'haram'. Tidak peduli kelas apa hari ini. Tidak pernah sadar bahwa orang yang dirong-rongnya menabung demi mereka. Tidak pernah mengerti arti 3 atau 4 digit untuk orang di belahan Jakarta yang lain.

Sungguh, tidak sembunyi dibalik sebuah besi baja milik sendiri membuka mata dan nurani yang sudah lama tertidur. Seperti itulah hidup. Seperti itulah kotamu.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com