Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Short Review : Dunkirk


I can't choose which one is the best among those Nolan movies. But i really like this one!

Tipikal film-film Nolan, film akan dibuka seperti menebar puzzle. Tidak seperti film-film Nolan sebelumnya yang banyak dialog dan inti cerita filmnya bisa ditemukan dari dialog-dialog yang saling berhubungan, Dunkirk ini fokus dengan visualisasi bagaimana setiap orang bertahan hidup di tengah-tengah gempuran bom dari musuh. Tapi 'sebaran puzzle' ini tidak terlalu membingungkan seperti film-film Nolan sebelumnya.

Puzzle A tentang prajurit-prajurit angkatan darat yang berusaha cepat-cepat pergi dari Dunkirk. Puzzle B tentang warga sipil yang berusaha menyelamatkan tentara di laut. Puzzle C tentang tentara angkatan udara yang harus meminimalisir serangan dari udara. Dan seperti ciri khas film-film Nolan yang lain, Nolan akan memilin benang merah dari semua puzzle-puzzle tersebut lewat serangkaian adegan yang nantinya membuat semua puzzle akhirnya terhubung. Dan di film ini, Nolan memilinnya dengan cantik sekali.

Nggak ada aksi heroik seperti lari di antara ledakan. Justru aksi heroik itu ditunjukkan dari warga sipil yang berani maju ke medan perang untuk menyelamatkan para tentara. They were just sailing through the sea and grabbed their hands. Mungkin juga adegan-adegan Tom Hardy mengatur serangan dari udara untuk melumpuhkan serangn udara dari lawan. (Tom Hardy jadi pilot pesawat tempur! Brb kipas-kipas saking hawtnya! ðŸ˜‚)

Film ini worth to watch banget buat penyuka film perang.
0

Pretty Little Chat About "Pretty Little Liars"

Oh Please!
I should write this since a loooong time ago, since the first time I fell in love with Pretty Little Liars.


Pretty Little Liars adalah film seri ABC Family, yang mayoritas penggemarnya adalah anak-anak labil. Seriously, PLL is soooo fu*kin' hits di USA sampai Australia. Gue yang awalnya malas sekali dengan cerita-cerita drama yang pacarannya muter-muter doang sekitar geng tersebut kayak 90210 atau Gossip Girl. But one night, I watched Pretty Little Liars "Pilot" episode in Warner. I'm already in love with the color tone, the soundtrack, and the casts. Gila ya, nggak ada cast PLL yang jelek! Semua cantik! Mau Geng Liars-nya atau pemain di luar Geng Liars. Cowoknya juga ganteng-ganteng semua. Bener-bener bikin mata seger banget walaupun ternyata ceritanya di luar yang gue pikirkan. Ada beberapa episode yang kalo kalian tonton, bulu kuduk kalian akan merinding. Bukan, ini bukan murder case. Ini lebih ke psychological thriller. Nggak juga sih, drama juga tapi agak thriller gitu. Dan yang bikin gue makin pengen nonton adalah RASA PENASARAN YANG NGGAK KETULUNGAN. Baru nonton episode "Pilot" aja, gue udah googling siapa A dan apakah Alison masih hidup!

Pretty Little Liars menceritakan tentang 5 cewek cantik di small town Rosewood, Pennsylvania yang punya ugly secrets.

  • Alison DiLaurentis (The Queen Bee) : Alison (Sasha Pieterse) ini ketua gengnya. Every girls want to be her, boys want to date her, parents want her to be their child. Tapi Alison ini tipikal mean girl dan banyak yang nggak suka sama dia. Dia bisa jadi sahabat yang baiiiiiik banget terus berubah jadi mean girl banget even sama sahabatnya. Ali milih Aria, Hanna, Spencer, Emily buat jadi anggota grupnya. Padahal empat cewek ini tadinya loser. Mungkin karena mereka bisa jadi puppetnya Ali. One day, liars lagi sleepover di barn-nya Spencer, kemudian Ali tiba-tiba hilang. Sampai setahun kemudian mereka baru nemuin jasad Alison.
  • Aria Montgomery : Aria (Lucy Hale) ini yang pertama kali gue liat cantiiik banget. Dia sama Ali pernah mergokin bapaknya make-out sama muridnya. Kemudian Ali maksa Aria untuk bilang ke ibunya (yee, keluarga juga keluarga siapaaa sih yaa Ali ini emang nyebelin hahaha). Bapaknya tau kalau Aria mergokin mereka, kemudian The Montgomerys pindah ke Iceland selama setahun. Pas mereka kembali setahun kemudian, Aria nggak sengaja ketemu cowok di bar dan mereka make out. Turns out, cowok itu adalah guru Bahasa Inggrisnya, Ezra Fitz. Oiya, Aria juga dibilang "the best liar" karena paling bisa bohong.
  • Hanna Marin :  Hanna (Ashley Benson) diceritain dulunya adalah cewek gendut yang sering di bully sama Alison. Setelah Alison hilang, Hanna mengidap eating disorder sampai jadi kurus. Hanna juga temenan sama Mona Vanderwaal, cewek yang sering di bully sama Ali karena Mona dulunya loser dan nerdy gitu. Pasca hilangnya Alison, Mona jadi cantik dan gaul banget. Hanna and Mona are the most popular girls in Rosewood High. Hanna sama Mona juga iseng-iseng shoplifting sampai akhirnya mereka ketawan, terus ibunya Hanna back-up Hanna dengan tidur sama Det. Wilden.
     
  • Spencer Hastings : Spencer (Troian Bellisario) cewek paling pinter diantara Liars. Seringnya dia jadi 'detektif' di hampir kejadian-kejadian apesnya Liars hahahaha. Spencer ini orang tuanya lawyers, terus she care so much about winning in everything. Dia juga bisa dibilang nerds. Dan Spencer tajir banget keluarganya. Selain nerds, Spencer juga aktif dimana-mana, kayak main hockey dan tennis. Dia pernah kissing sama pacar kakaknya, dan kepergok sama Alison. Terus Alison ngancem mau lapor ke kakaknya, Melissa. Makanya hubungan Spencer dan Alison emang kurang baik. Karena tenyata Alison juga suka sama pacarnya Melissa, Ian. Ali juga pernah bantuin Spencer menang class president dengan cara curang. Pasca Ali hilang, Spencer juga nggak sengaja kissing sama tunangan kakaknya, Wren.
  • Emily Fields : Emily (Shay Mitchell) ini cewek sporty diantara liars. Dia jago banget renangnya. Em juga gay (kalau di buku sih dia bisexual). Dia pernah suka sama Alison, dan mereka sempet kissing di library. Dari semua liars memang Em yang paling sayang sama Alison makanya dia suka dibilang "the weakest link". Setelah hilangnya Ali, Emily naksir tetangganya (menempati bekas rumah Ali) yang lesbian juga, Maya St. Germain. 
Setelah Aria balik dari Iceland, Hanna; Spencer; Emily mulai di teror dengan text-text yang isinya ngebeberin rahasia mereka, menyindir mereka, meneror mereka juga, dengan signature "-A" kayak Alison. Liars parno rahasia mereka nggak aman, terutama rahasia yang bakal mereka bawa sampai mati, yaitu "The Jenna Thing" waktu mereka ngebakar garasinya Jenna Marshall dan nggak sengaja bikin Jenna buta. Awalnya mereka pikir Ali masih hidup, karena Spencer pernah liat bayangan cewek blonde hair di kamar Ali (yang ceritanya sebrang-sebrangan sama kamar Spencer) persis Ali. Sampai akhirnya polisi menemukan jasad Ali di rumah keluarga St. Germains. Si -A ini selain super kepo dan bitchy kayak Alison, dia juga bisa ngelakuin apa aja dan selangkah lebih depan dari liars. -A bisa ngerusak hubungan liars, hidup liars, sampai (season 4 ini) mereka ngejar-ngejar orang tua liars! Dan yang gue suka, di Pretty Little Liars (sampai saat ini sih) nggak ada cowok-cowok yang digilir diantara liars hahahaha. Berikut cowok-cowok liars antara lain:
  • Ian Thomas : Ini cowok kakaknya Spencer, dia dibunuh di akhir season 1, kayaknya Ian tau banyak banget kejadian Ali hilang malam itu.
  • Wren Kingston (Jullian Morris) : Dokter british super hot ini agak-agak player juga, soalnya dia baik sama semua cewek hahahaha.
  • Toby Cavanaugh (Keegan Allen) : Toby ini awalnya ngejar Emily. Pernah dipaksa Ali untuk ngaku dia yang start the fire di "The Jenna Thing" ternyata Toby sempet suka sama Ali. Toby juga pernah dijadiin tahanan rumah karena ada bukti yang menguatkan kalo dia bunuh Alison (gara-gara Spencer juga sih). Tapi pada akhirnya Toby malah jadian sama Spencer dan mereka supeeeer sweeeeettttt!
  • Caleb Rivers (Tyler Blackburn) : Caleb ini hacker, pernah diminta Liars untuk investigating -A tapi ujung-ujungnya Caleb kena juga dikerjain sama -A. Dia ini akhirnya jadian sama Hanna, dan dia baik banget sama Hanna. Cuma Hanna suka nge-push dia supaya dia aman.
  • Ezra Fitz (Ian Harding) : Ezra sebenernya ganteng tapi entahlah, gue kesel dengan tokohnya dia hahaha. Karena dia sama Aria pacarannya terlalu serius, terlalu dewasa, tapi nggak berbuat apa-apa untuk lindungin Aria.
  • Noel Kahn (Brant Daugherty) : Sebenernya gue lebih setuju Aria sama Noel, karena Noel kalo di buku sweet banget. Terus tokoh Noel di film dibikin menyebalkan sekali hahaha. Noel ini kayaknya tau banyak tentang beberapa hal. Dia tuh tipikal cowok populer sok asik tapi nyimpen rahasia hahaha.
  • Lucas (Brendan Robinson) : Lucas ini suka dipanggil 'hermie' sama Ali, soalnya dia kalo ngomong emang agak manis. Dia diem-diem suka sama Hanna, tapi nggak berbalas. Dia juga sering diancam dan disuruh-suruh sama Mona.
  • Jason DiLaurentis (Drew Van Acker) : Kakak Alison ini kayak sering nyimpen sesuatu. Kayak tahu banyak tapi nggak punya temen gitu. Jason ini sebenarnya hasil hubungan gelap bapaknya Spencer dan ibunya Ali. Jadi Spencer sama Ali memang secara nggak langsung sekeluarga.
  • Garett Reynolds (Yani Gellman) : Garett bisa dibilang polisi 'anjing' di Rosewood karena bukannya melindungi, dia sebenarnya melindungi dirinya sendiri. Dari ngambil 'page 5' hasil autopsinya Alison sampe kepoin liars.
Gara-gara penuh misteri dengan -A nya banyak banget fans yang jadi punya teori (nubitol--newbie tolol--hahaha) sendiri tentang -A dan pembunuhnya Alison dari scene-scene PLL. Teori fans bahkan lebih seru daripada filmnya sendiri! Memang Marlene King dkk (creatornya PLL) suka kasih beberapa hints. Mereka juga suka ngambil dari beberapa literature atau film yang mengindikasikan kemiripan dengan episode tertentu. Kayak MK pernah bikin episode yang diambil dari film Kathy Bates, "Misery", dengan judul "Misery Loves Company" dan scene-nya kayak scene film Misery waktu si writer ini sebenernya di 'racun' supaya nggak sembuh-sembuh. Atau kayak episode season 2 finale, "UnmAsked", MK bikin episode itu terinspirasi dari "The Black Swan". Walau di akhir kita tau yang pakai kostum Black Swan itu Melissa Hastings, tapi kostum Aria Montgomery juga mengindikasikan kostum Black Swan juga. Selain itu waktu Aria dansa sama Ezra Fitz, setting tempatnya juga kayak Black Swan yang diantara cermin-cermin. MK pernah bilang kalo wardrobe Aria (yang aneh-aneh itu) beberapa ada maksudnya. Aria juga pernah pakai kostum Daisy Buchanan (The Great Gatsby), yang sebelumnya gue udah sering baca kalo Ezra itu kayak di The Great Gatsby, ada yang bilang bagian yang The Buchanans saling nggak sengaja bunuh selingkuhan pasangannya masing-masing, ada juga yang bilang Ezra obsesi dengan cewek dan punya hidden agenda gitu. Bahkan gara-gara PLL gue baca Great Gatsby! hahahaha.

So, who's -A? (post di bawah ini mengandung spoiler, jadi harap mundur kalo nggak mau terganggu)

  • In book: Mona Vanderwaal, karena dia dari dulu kan di bully Alison jadi dia mau balas dendam. Waktu ketawan, Mona sempet ngajak Spencer untuk gabung tapi Spencer nolak, terus Mona jatuh ke jurang dan mati.
    Setelah Mona mati, Mrs DiLaurentis mengenalkan anaknya Courtney DiLaurentis, kembarannya Alison yang ternyata selama ini di rumah sakit jiwa. Ternyata Courtney dan Alison tukeran identitas dari mereka grade 7, selama ini yang jadi teman Liars itu Courtney yang jadi Alison (yang sakit jiwa) terus Alison yang asli kabur dari rumah sakit jiwa kemudian bunuh Alison yang palsu (Courtney) kemudian dia jadi -A yang kedua.
  • In TV: Mona Vanderwaal, dengan alasan yang sama pluuuss dia ngerasa Liars ngerebut Hanna dari dia. Setelah ketawan, Mona stay di rumah sakit jiwa, Radley Sanitarium. Merekrut Toby Cavanaugh untuk jadi kaki tangannya selama dia di Radley. Dan ternyata Toby join karena dia kepo sama -A team hahaha. Begitu juga Spencer yang akhirnya ikut permainannya Mona jadi -A karena dia pengen tau Toby masih hidup apa nggak. Sekarang Mona juga ikut dalam lingkaran permainan -A yang baru. 
  • Yang pernah di duga -A antara lain: Jenna (because she's very sketchy sometimes dan dia juga benci sama Ali tapi selalu aja dibelokin lagi kalo Jenna dijebak); Melissa (Melissa juga benci sama Ali dari dulu dan sepertinya dia banyak ngelindungin keluarganya); Ezra (Tokoh Ezra muncul dari episode 1 dan tetap dipertahankan sampai sekarang dan beberapa kali -A nggak pernah terlalu jahat sama Aria, kayak Ezra punya typewriter, -A biasa blackmail pakai typewriter juga); Aria (-A sering kali main 'lembek' sama Aria, Aria juga dibilang 'the best liar' sama teman-temannya, wardrobe Aria juga sering kali seperti sebuah code); Ali's Twin (tapi produser dan writers TV banyak yang bilang nggak ngikutin buku, tapi yaaa buktinya mereka tetap ngikutin buku kalo Mona -A pertama. Besides, the existence of Courtney DiLaurentis is a major storyline banget di buku, they should appreciate Sara as the author. Kalo menurut gue sih lebih seru kalau Courtney tetap ada tapi jalan ceritanya dibikin lebih twisted gitu.)
Kalau banyak yang penasaran dengan teori-teori PLL, I'll recommend you to read:
- Forum lokal seperti Indowebster atau Kaskus, search ada "Pretty Little Liars"
- Blog Pretty Little Conspiracies : banyak masukan dari fans, seru, walau mereka sekarang jarang update karena mereka sekolah.
- Blog Pretty Little Secret Hints : hampir sama dengan PLC tapi lebih organize aja, karena mereka punya website sendiri sekarang (gile ya niat!).

6

Something Borrowed


  • Rachel is just average sweet woman who thinks she's never 'that hot' for Dex, who fell in love with Dex like crazy for years and never told him, who never could get Dex's code that he fell in love with her too.
  • So she accidentally told Dex that she fell in love with him. Turns out he told her that she was the only one he ever wanted in law school. And it was too late because he was gonna marry Rachel's narcist self-centred bossy bestfriend, Darcy.
  • Rachel got everything she ever wanted: Dex. That Dex seriously deeply in love with her. Like, come on, he didn't even sleep after make love with her, he watched her sleeping! With a look that every woman want to be looked at!
  • But Dex couldn't cancel the wedding, so they spent summer at Hamptons, then Rachel heard the sound of Dex and Darcy were having sex. :(
  • Meanwhile, Marcus tried to get Rachel, but please, Rachel was a smart woman, she would never interested with Marcus story about the little chipmunk, duh!
  • Darcy couldn't even write words for her wedding vow! Oh please. If you were really love him, it wasn't that hard, Darce! Then when Rachel tried to make it for her, she abandoned her to greet her fellas. Oh that bitch.
  • Ethan liked Rachel, because Rachel was like a home to him. Poor Ethan. :(
  • Darcy narcism was too much. Like, she was saying that "hot people get cheated" or told Ethan that he always liked her or told Rachel that Rachel had been jealous with her since she got into Notra Dame (well according to Ethan, she might not accepted that time because they never see the acceptance letter). She also hypocrite, told Rachel that it was the best time of her life and she was really happy after they decided not to talk anymore. With her red gloomy eyes, smiled, deep down she was upset because she lost her best friend.


0

Ruby Sparks: She's Out Of His Mind


Ruby Sparks
Directors: Jonathan Dayton & Valerie Faris
Written By: Zoe Kazan
Stars: Paul Dano, Zoe Kazan
Ratings: 7,2/10 (IMDB) 79% Certified Fresh (Rotten Tomatoes)


Ruby Sparks is the cutest 2012 rom-com I ever watched. Filmnya lucu, akting pemainnya juga pas dan lucu romantis, ide ceritanya bagus. Ruby Sparks mengisahkan tentang penulis novel, Calvin, yang sedang mengalami writer's block. Dengan typewriter nya ia mulai membangun kisah percintaannya dengan seorang tokohnya, Ruby Sparks. Calvin jatuh cinta dengan tokoh buatannya. Kemudian Ruby tiba-tiba muncul dengan wujud yang nyata, dengan pribadi yang seperti Calvin bentuk di ceritanya. Ruby dapat dirubah menjadi apapun yang Calvin mau hanya dengan menuliskannya ke dalam naskah. Dimulai saat Ruby merasa bosan dan butuh ruang diantara mereka, Ruby mulai menikmati hidupnya sedangkan Calvin merindukannya. Kemudian Calvin mulai merubah-rubah mood Ruby sesuai keinginannya. Sampai akhirnya ia lelah melihat Ruby seperti itu.


Scene-scene nya sangat lucu dan menarik. Chemistry diantara Paul Dano dan Zoe Kazan paaaaaas banget, lucuuuu banget, membuat hubungan mereka terlihat sangat cute dan romantis. Scene paling menarik tentunya saat Calvin sering merubah-rubah mood Ruby. Seperti saat dia menuliskan "Ruby feels miserable without Calvin," kemudian muncullah Ruby yang manja bukan main. Sampai-sampai ia mengekor kemana pun Calvin pergi. Ada adegan lucu waktu Calvin meninggalkannya menyeberang di jalan, kemudian Ruby menangis karena ditinggalkan. Atau saat Calvin menulis bahwa Ruby sedang riang gembira, kemudian Ruby berubah menjadi Ruby yang suka lompat-lompat dan bernyayi terus-terusan.


Lucunya ini mengingatkan saya bahwa kita tidak henti-hentinya ingin membuat orang lain (terutama pasangan atau orang terdekat kita) menjadi seperti yang kita mau, menuruti mood kita. Atau mengingatkan saya pada tagline "careful what you wished for." Setelah orang itu menjadi seperti yang kita inginkan rasanya kita tidak pernah puas ingin mereka menjadi begini, begitu. Pada akhirnya kita hanya ingin mereka jadi dirinya sendiri, karena deep down inside, kita tau kita menyayangi mereka apa adanya mereka. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berubah seperti ini atau itu, atau tanggapan mereka sesuai dengan suasana mood kita. Karena kita tidak akan pernah puas meminta seseorang untuk menjadi apa yang kita inginkan, karena mereka lebih menyenangkan menjadi apa adanya, menjadi diri mereka sendiri.


Quotes:
  • "I cannot help but write this for her, to tell her "I'm sorry for every word I wrote to change you, I'm sorry for so many things. I couldn't see you when you were here and, now that you're gone, I see you everywhere." One may read this and think it's magic, but falling in love is an act of magic, so is writing." (Calvin)
  • "In the luckiest, happiest state, the words are not coming from you, but through you. She came to me wholly herself, I was just lucky enough to be there to catch her." (Calvin)
  • "She's complicated. That's what I like best about her." (Calvin)
  • "I'm such a mess." (Ruby) "I love your mess." (Calvin)


0

The Hunger Games: Hope is the only thing stronger than fear.


 The Hunger Games
Director: Gary Ross (based on Suzanne Collins' book)
Stars: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Elizabeth Banks
Ratings: 7.2/10 (IMDB) 85% Certified Fresh (Rotten Tomatoes)

I watched The Hunger Games last year for the first time. And I already falling love with the story and falling love with Katniss Everdeen (also with Gale a.k.a Liam Hemsworth of course!). Finally, the sequel will out in June, called "Catching Fire", when Katniss and Peeta are going to play 75th Hunger Games again! They said 24 winner will play again in 75th Hunger Games (which I think this is just SICK!). The movie is playing on Fox Movies Premium this week (YAY!). So I'm making the resume about The Hunger Games.

***


The Hunger Games adalah sebuah perlombaan yang di adakan The Capitol, Panem, (somewhere in) North America setiap tahunnya yang pesertanya adalah remaja umur 12-18 tahun dari District 1 - 12. Ini merupakan salah satu penebusan 'dosa' bagi rakyat Panem pada Capitol setelah pemberontakan yang terjadi beberapa tahun silam. Juaranya hanya satu, yaitu ia yang masih hidup setelah semua finalis mati. Ini bukan game pembunuhan, tetapi bertahan hidup. Karena tanpa saling membunuh pun, game ini sudah dirancang oleh Capitol bahwa mereka tidak akan bertahan hidup disana. Bisa karena dehidrasi, keracunan, kedinginan, kelaparan, atau dimakan binatang buas. Yang semuanya sudah diatur oleh The Capitol.


Katniss menjadi volunteer karena adiknya yang masih 12 tahun terpilih untuk mewakili District 12 bersama Peeta. Dengan skill pemburunya, Katniss mendapatkan sponsor terbanyak saat itu. Banyaknya sponsor berarti banyaknya bantuan yang akan datang padanya pada saat game. The best scene adalah saat Katniss berusaha meng-impressed sponsor dengan panah yang tepat sasaran pada apel di lounge sponsors.


Ide cerita yang sangat bagus menurut saya, seperti gambaran negara yang rakyat kecilnya melakukan pemberontakan. Gambaran rakyat kecil yang menjadi bagian dari boneka pemerintahan. Sekali lagi, The Hunger Games adalah permainan bertahan hidup, bukan saling membunuh. Yang menang adalah dia yang dapat bertahan hidup bukan mereka yang paling kuat dan kejam. Adanya secercah harapan merupakan salah satu kekuatan untuk bertahan. Justru dengan berkelompok manusia dapat menjadi lebih kuat, nantinya alam yang akan menyeleksinya sendiri.

***

Quotes:

  • "I just keep wishing I could think of a way to show them that they don't own me. If I'm gonna die, I wanna still be me. Does it make any sense?" (Peeta Mellark)
  • "Okay, listen to me, you're stronger than they are. You are. They just want a good show, that's all they want. You know how to hunt. Show them how good you are." (Gale Hawthorne)
  • "Why do we have a winner? I mean, if we just wanted to intimidate the districts, why not round up twenty-four at random and execute them all at one? It would be a lot faster. Hope. It is the only thing stronger than fear. A little hope is effective. A lot of hope is dangerous. Spark is fine, as long as it's contained." (President Snow)
0

Julie & Julia: Based On Two True Story

Hello!
Finally, I'm back after few months hiatus. I was busy with my Thesis and everything :p. So, in last six months, I was doing my Thesis then I got an A! Straight A GPA in semester 7 hahaha (well actually it was because the subjects that I took were not that hard hehe). I was being Technical Support volunteer for Java Soulnation 2012 and Java Jazz 2013. Met some new people, great people, tired but so much fun. I also playing in my friend's short movie (for her Thesis) being an eating disorder-pregnant high school girl (and I have a scene when I only wore a tube top and covered with blanket! that was sooo awkward hahaha). Alsoooo.... I joined some competition like writing short story about social media to get my short story published in Sitta Karina's short story compilation book from Anak Asyik, and writing a review about book that I read to win The Casual Vacancy from Reading Walk. But I didn't win in both of those competition, well I knew I wasn't that good when writing the short story for Anak Asyik and not that lucky for the Reading Walk competition (but it's okay, because my mom bought me The Casual Vacancy after that! hihi). Back to my blooog, I'm gonna write about Julie & Julia (fyi, in Bahasa :p because my English isn't that good :p). Actually I watched this film since 2010 or 2011 but just re-watch this and got spare time to write.

***


Director: Nora Ephron
Stars: Meryl Streep, Amy Adams, Stanley Tucci
Ratings: 7,0/10 (IMDB) 75% Certified Fresh (RottenTomatoes)

Julie & Julia, film garapan Nora Ephron yang diangkat dari buku Julie Powell merupakan film yang manis, lucu, dan bikin lapeerrr! Bercerita tentang Julie Powell (seperti standar film Amerika lainnya) yang tidak menyukai pekerjaannya. Julie cukup senang memasak, so she did something she enjoys, cook. Tapi kali ini dia akan memasak setiap resep dari buku Julia Child "Mastering The Art Of French Cooking" dalam 365 hari, dengan tujuan akan memotivasi dirinya.


Kemudian film berganti ke cerita Julia Child pada tahun 1950-1960an. Julia Child yang baru ikut suaminya pindah ke Paris juga mencari kesibukkan untuk dirinya. Julia loves foods and eat, so she decided to joined cooking class in Le Cordon Bleu to learn French cooking. Plot film ini maju-mundur dari Julie lalu ke Julia. Kemudian ada kemiripan-kemiripan diantara mereka, seperti mereka punya target yang ingin dicapai dan suami yang sangat support hobi mereka.

Perlahan blog Julie Powell menjadi terkenal, dari mendapatkan 1-2 komentar sampai dibahas di The New York Times dan menarik para jurnalis serta publisher. Sedangkan Julia Child yang niat awalnya hanya ingin mengajar American woman to cook French cooking, ia diajak oleh kedua temannya untuk ikut menulis buku masakan tentang memasak makanan Prancis untuk wanita Amerika. Walau sempat ditolak oleh penerbit sasarannya, namun akhirnya penerbit Alfred A. Knopf tertarik untuk menerbitkan buku tersebut dengan merubah judulnya menjadi "Mastering The Art Of French Cooking" 


Menariknya, Julie dan Julia seperti punya kesamaan disini. Mereka sama-sama suka makanan, mereka suka masak, mereka bikin buku. Julie & Julia taught me that passion is something that keep you alive. Padahal awalnya target mereka sederhana, mau ngajar dan mau ngeblog satu tahun secara konsisten. Tapi begitulah kalau kita sudah hidup dengan passion kita, kesuksesan biasanya menyusul. Tentunya butuh ketekunan untuk jadi sukses. Julia memang sepertinya sudah berbakat dengan urusan makanan, tapi bukan berarti orang tidak pernah merendahkannya. Sedangkan Julie, tidak sekali dua kali masakannya hancur berantakan, dikecewakan, putus asa, sampai menerima kritik dari Julia Child sendiri. Tapi karena mereka menyukainya, mereka tidak berhenti belajar dan mencoba. Who cares with those people who break you down, what matters is you, how far you'll fight, what's inside your head. Ditambah mereka punya suami yang mendukung hobi mereka, makes everything sounds easier. Satu hal yang saya suka dari inti cerita ini: Do what you love, you will find joy and it keeps you alive.

***

Quotes:

  • "You are the butter to my bread, the breath to my life" (Paul Child & Julie Powell) 
  • "What is it you really like to do?" (Paul Child) "Eat!" (Julia Child) 
  • "Julia Child in your head is perfect" (Eric Powell)
0

Easy A Line

Whatever happened to chivalry? Does it only exist in 80's movies? I want John Cusack holding a boombox outside my window. I wanna ride off on a lawnmower with Patrick Dempsey. I want Jake from Sixteen Candles waiting outside the church for me. I want Judd Nelson thrusting his fist into the air because he knows he got me. Just once I want my life to be like an 80's movie, preferably one with a really awesome musical number for no apparent reason. But no, no, John Hughes did not direct my life. - Olive Penderghast

This one is my favorite line in Easy A. Especially this line, "I want Judd Nelson thrusting his fist into the air because he knows he got me. Just once I want my life to be like an 80s movie. But no, John Hughes did not direct my life." Because I remember how Judd Nelson's character in The Breakfast Club and then he got Molly Ringwald in the end of film. Yeah, sweet,

Film-film 80-an yang disebutkan Olive punya scene-scene cukup sweet yang bikin kita terkenang-kenang setiap habis menontonnya (serta cuma bisa kita nikmati sambil mupeng-mupeng di film karena kalo terjadi di real life pasti jadi drama abis hahaha).

Dan di akhir scene, anti-klimaks yang bagus dan lucu, Todd (Penn Badgley) berdiri di depan rumah Olive kayak film Sixteen Candles, ngangkat mini speaker yang di colok ke mp3 player kayak John Cusack, lengkap dengan alat pemotong rumput kayak Patrick Dempsey, kemudian mereka motong rumput dan angkat tangan ke atas persis kayak Judd Nelson di The Breakfast Club. :-)
0

Stepmom: Be there for the joy. Be there for the tears. Be there for each other.


Director: Chris Colombus
Stars: Julia Roberts, Susan Sarandon, Ed Harris
Rating: 6.2/10

Stepmom adalah salah satu film Julia Robets favorite saya setelah Pretty Woman, Mona Lisa Smile dan Eat Pray Love.

Menceritakan Isabel Kelly (Julia Roberts), fotografer professional, gambaran perempuan modern, masa kini abis, yang menjalin hubungan dengan seorang duda dengan dua anak, Luke Harrison (Ed Harris). Tidak ada anak yang dapat dengan mudah merima bahwa orang tuanya berpisah dan salah satunya akan menikah dengan orang lain. Yang artinya akan ada orang lain masuk, dan berusaha menggantikan posisi ibu mereka. Belum lagi dengan ibu kandung mereka, Jackie (Susan Sarandon) yang tidak suka dengan Isabel. Berbeda dengan Isabel, Jackie adalah gambaran seorang ibu yang konservatif dan bijak. Isabel hanyalah seorang wanita karir yang belum siap untuk memiliki anak, namun keadaan memaksanya untuk masuk ke dalam keluarga Luke, yang berarti ia harus siap untuk mengurus dan mendidik anak.



Anna Harrison adalah seorang gadis belia yang pengetahuan dunia orang dewasanya sudah cukup banyak, namun tetap dengan keluguan anak kecil. Ia keras dan tidak akan pernah suka dengan Isabel. Berbeda dengan Ben Harrison, Ben hanya anak laki-laki dengan keluguannya tidak begitu mengerti akan komplikasi dunia orang dewasa. Ia cukup senang dengan Isabel, namun ia lebih menyayangi ibunya dan akan menuruti apapun yang diinginkan ibunya agar ibunya bahagia.

Kecemburuan Jackie membuatnya tak pernah menyukai Isabel, apapun alasannya. Ditambah lagi dengan ketidaksiapan Isabel untuk mendidik anak-anaknya. Namun dalam mendidik anak, tentu sebagai orang tua Jackie tidak bisa mendidik anak-anaknya tumbuh dengan rasa benci. Ia harus menjadi seseorang yang bijak, sebagai contoh, bahwa mereka harus menerima Isabel masuk dalam kehidupan mereka karena ayah mereka mencintainya. Ketika kanker yang menggerogotinya, hanya ada satu pilihan kemana ia harus menitipkan anak-anaknya kelak. Rasa takut menghantui apabila anak-anaknya melupakannya.


Seperti dongeng Cinderella, gambaran ibu tiri adalah wanita jahat yang tidak bisa menyayangi anak tirinya seperti anaknya sendiri. Tapi cerita ini berbeda. Film ini menggambarkan bagaimana sulitnya calon ibu tiri masuk ke sebuah keluarga. Bagaimana agar dia diterima. Dan mempersiapkan diri mengemban tanggung jawab barunya. Isabel memiliki perbedaan yang kontras dengan Jackie. Kedua wanita yang sebenarnya tidak saling suka ini harus men-kesampingkan perbedaan-perbedaan diantara mereka demi masa depan anak-anak mereka.

Film yang buat gue sangat menyentuh. Bagaimana seorang ibu yang harus membuang rasa insecure-nya sejenak demi menjadi contoh yang bijak bagi anak-anaknya. Bagaimana seorang perempuan muda mempersiapkan dirinya menjadi seorang ibu, dan sulitnya masuk dalam keluarga tersebut. Mantan istri yang tidak menyukainya, insecure karena posisinya. Anak-anak yang tidak pernah bisa menerimanya. Dan pada akhirnya, mereka harus menerima keadaan. Posisi Jackie yang divonis hidup tak lama lagi, mengharuskan ia dan anak-anaknya menerima Isabel, juga memaksa Isabel siap menjadi seorang ibu.

Mengutip komentar Glyn Ingram pada IMDB, "This is a film about a mental battle between two independent women, but it's also about tragedy and its consequences. It's much too soft round the edges for its own good, resulting in a movie that, whilst touching, sad and emotional, still lacks a little maturity."


Isabel: You know, I never wanted to be a mom. Sharing it with you... that's one thing. It's another to be looking over my shoulder for the next twenty years, knowing someone else would have done it better... someone else would have done it right.  
Jackie Harrison: What do you have that I don't?  
Isabel: You're Mother Earth, incarnate.  
Jackie Harrison: You're... hip, and fresh. 
Isabel: You ride with Anna.   
Jackie Harrison: You'll learn.  
Isabel: You know every story, every wound, every memory. Their whole life's happiness is wrapped up in you... every single second. Don't you get it? Look down the road to her wedding. I'm in a room alone with her, fixing her veil, fluffing her dress, telling her no woman has ever looked so beautiful. And my fear is she'll be thinking, "I wish my mom was here." 
Jackie Harrison: And mine is... she won't. 
Jackie Harrison: The thing is, they don't have to choose. They can have us both. I have their past, you can have their future.  


Ben Harrison: Mommy... 
Jackie Harrison: What, sweetie? Ben Harrison: If you want me to hate her I will.



0

Flipped (2010): You Never Forget Your First Love

Director: Rob Reiner
Stars: Madeline Caroll, Callan McAuliffe
Rating: 7.5/10

Juli Baker jatuh cinta pada pandangan pertama dengan tetangga barunya, Bryce Loski. Sejak kelas 2, Juli yakin ciuman pertamanya akan jatuh pada Bryce. Sayangnya, Bryce tidak merasakan hal yang sama dengan Juli. Saat kelas 6 Bryce mendekati Sherry Stalls agar Juli menjauhinya. Sejak saat itu pula Sherry menjadi 'musuh abadi' Juli. Ketika Bryce dan Sherry putus, Juli kembali bersemangat. Namun bagi Bryce, tingkah laku Juli aneh dan sangat mengganggunya. A freak, a stalker.

Bagi Bryce, ia lebih senang Juli mengganggunya dibanding marah dengannya. Ia mulai memperhatikan Juli dalam rangka permintaan maafnya. Karena kakeknya lah, ia tahu kehidupan keluarga Juli. Tanpa sadar, ia sebenarnya menyukai Juli. Juli yang pintar dan baik hati. Bryce kepergok memperhatikan Juli di lab, Bryce membicarakan Juli di perpustakaan, Bryce memandangi foto Juli di koran.
Sedangkan Juli malah sebaliknya, Bryce hanya anak laki-laki yang tidak berperasaan, Bryce bahkan tak pernah benar-benar menjadi temannya. Mereka tidak pernah mengobrol, Bryce tidak pernah melakukan 'what friend should do' terhadap Juli. Bryce tidak mendukung Juli ketika Sycamore Tree akan ditebang, Bryce tidak senang dengan kemenangan Juli di science fair, Bryce membuang semua telur yang diberikan Juli untuk keluarga Loski, Bryce menghina pekarangan Juli, bahkan Bryce menertawakan paman Juli yang terbelakang.

Ketika acara lelang 'Basketboys' tahunan diadakan, Bryce terpilih menjadi salah satu kandidat 'The Basketboys'. Bryce awalnya tak yakin Juli ikut dalam tawar menawar lelang, namun ketika teman-temannya berkata bahwa mereka lihat Juli membawa uang, Bryce ingin Juli yang menawarnya. Namun Bryce takut apabila Juli kalah tawar dengan Sherry.
Dari awal, Juli tak mau membawa sejumlah uang agar tak tergoda untuk ikut lelang, namun ditengan jalan Juli diberi uang oleh Mrs. Steuby atas bayaran dari penjualan telur-telurnya, Juli pun ikut menawar. Bukan menawar Bryce, tapi malah menawar Eddie Trulock karena kasihan.
Saat acara makan siang, Bryce menarik Juli dan akan menciumnya. Namun Juli meninggalkannya. Juli pun tidak mau menemui Bryce berhari-hari. Meskipun setiap hari Bryce berusaha mengetuk pintu rumahnya, meneleponnya, bahkan mengetuk jendela kamar Juli.

Juli tumbuh di keluarga sederhana yang tak sempurna. Ia mensyukuri apa yang ia miliki. Bryce tumbuh di keluarga mapan yang disfungsional. Ia mengerti ayahnya, berusaha mencerna perkataan kakeknya. Film ini lebih dari sekedar cerita cinta monyet. Tapi juga tentang menghormati dan mensyukuri ketidaksempurnaan orang tua.


Menonton film ini rasanya campur aduk. Senang, lucu, kocak, kesal, terharu, terus 'jleb'. Film yang dibuat dengan 2 sudut pandang ini, benar-benar menggambarkan pandangan cinta monyet dari sisi perempuan dan laki-laki. Ketika lo akan merasa 'anjirrr gue banget nih jaman SMA/SMP!'

Emang ya pas jaman dulu, kalo suka sama cowok suka annoying, ngerasa ada yang salah sama diri kita, ngerasa kepedean, curi-curi kesempatan, dari cinta jadi benci, dari benci jadi cinta, salah tingkah, salah ngomong, jadi bego sendiri, sampai akhirnya melakukan hal positif yang tadinya niatnya buat dipandang orang yang bersangkutan. Yang manis, waktu Bryce itu suka sama Juli unreasonable, sejak kenal Juli lebih jauh, tau kehidupan Juli kayak apa, Juli yang baik hati dan pintar. Well, you don't step into love, you fall.


Kalo suka dengan film-film ini: When Harry Met Sally, He Said She Said, Love Me If You Dare, 500 Days of Summer, I suggest you to watch Flipped! ;)
0

Big Fish (2003): You're A Big Fish in Small Pond, But This Is Ocean And You're Drowning



Director: Tim Burton

Stars: Ewan McGregor, Albert Finney, Billy Crudup, Jessica Lange, Helena Bonham Carter, Marion Cotillard
IMDB Rating: 8.0/10


Big Fish bisa jadi most favorite movie all the time saya. Drama-fantasy yang begitu menyentuh, sarat makna (terbukti berapa banyak quote yang saya cari haha), romantis, lucu, penuh imajinasi. Inti cerita ini sebenarnya drama keluarga, tapi diceritakan dengan penuh fantasi, tidak menya-menye, dan dengan gaya khas Tim Burton yang sangat imajinatif film ini sungguh-sungguh menarik dan menyentuh. Pertama kali nonton film ini saya sampai menitikkan air mata. :')

Edward Bloom adalah orang yang mudah dicintai setiap orang yang mengenalnya. Ia selalu bercerita tentang kehidupannya yang penuh imajinasi. Ia mengambil hati banyak orang, kecuali anak lelakinya. Will (anak Edward), tidak pernah menyukai sifat ayahnya yang senang 'mendongeng'. Baginya, ayahnya tidak realistis dan pembohong. Will merasa banyak sisi lain kehidupan ayahnya yang ditutupi. Dari kisah ayahnya yang bertemu penyihir, berteman dengan raksasa, tersesat di kota Spectre, bekerja di sirkus, ikut wajib militer dan menjalankan misi rahasia ke Vietnam, bertemu dengan 2 wanita vietnam yang kembar siam, kemudian dinyatakan missing in action, bagaimana ayahnya jatuh cinta dengan ibunya dan melamarnya sampai-sampai babak belur, ikut andil dalam perampokan bank, dsb. Bagi Will itu hanyalah dongeng ayahnya semata. Sampai ia menemukan beberapa bukti bahwa tidak sepenuhnya cerita ayahnya adalah dongeng belaka. Sebagian cerita itu nyata.



"Most men, they'll tell you a story straight through. It won't be complicated, but it won't be interesting either." -Senior Edward Bloom





"They say when you meet the love of your life, time stops, and that's true. What they don't tell you is that when it starts again, it moves extra fast to catch up." -Senior Edward Bloom

"Sandra Bloom: You don't even know me.
Young Ed Bloom: I have the rest of my life to find out."

"There are some fish that cannot be caught. It's not that they are faster or stronger than other fish, they're just touched by something extra." -Young Edward Bloom

"I caught an uncatchable fish." -Senior Edward Bloom

(Yep. Sometimes, to caught an uncatchable woman is to offer her a wedding ring :). Saya benar-benar 'ngeces' melihat bagaimana mereka menggambarkan true love di film ini. Seperti fairytale dan sempurna. Tapi tidak juga seperti itu. Faith-uncatchable-wedding ring-loyalty.)

"Senior Dr. Bennett: Did your father ever tell you about the day you were born?
Will Bloom: A thousand times. He caught an uncatchable fish.
Senior Dr. Bennett: Not that one. The real story. Did he ever tell you that?
Will Bloom: No.
Senior Dr. Bennett: Your mother came in about three in the afternoon. Her neighbor drove her, on account of your father was on business in Wichita. You were born a week early, but there were no complications. It was a perfect delivery. Now, your father was sorry to miss it, but it wasn't the custom for the men to be in the room for deliveries then, so I can't see as it would have been much different had he been there. And that's the real story of how you were born. Not very exciting, is it? And I suppose if I had to choose between the true version and an elaborate one involving a fish and a wedding ring, I might choose the fancy version. But that's just me.
Will Bloom: I kind of liked your version."

(Ini hanya masalah perspektif, cara kita memandang sesuatu berbeda-beda. Kadang ada yang suka, kadang ada yang tidak.)


"First time he was early, second time he was late." -Jenny
"For your father, there's always two women. Your mother and everybody else." -Jenny
"I loved a man who could never love me back. I was living in a fairytale." -Jenny

(Jenny bertemu Edward sejak kecil, umur mereka terpaut jauh. Ia menanti Edward kembali ketika ia dewasa. Namun takdir berkata lain, Jenny menikah di umur 18th dengan pria berumur 28th. Sedangkan Edward menemukan jodohnya, Sandra Templeton.)


"Senior Ed Bloom: What do you want, Will? Who do you want me to be?
Will Bloom: Just yourself. Good, bad, everything. Just show me who you are for once.
Senior Ed Bloom: I've been nothin' but myself since the day I was born, and if you can't see that it's your failin', not mine"

(I like this conversation! People should accept us whoever or however we are. They always said that we should be ourselves, but sometimes they just push us to be someone they wanted us to be. Like its said, "If you can't see, it's your failin' not mine.")


"Everybody's there, and I mean everybody. And the strange thing is, there's not a sad face to be found, everyone's just so happy to see you." -Will Bloom

"My girl in the river" -Edward Bloom

"You were a big fish in a small pond, but this here is the ocean and your drownin'. Take my advice, go back to Puddleville; you'll be happy there. " -Amos Calloway

"Have you ever heard a joke so many times you've forgotten why it's funny? And then you hear it again and suddenly it's new. You remember why you loved it in the first place. That was my father's final joke, I guess. A man tells his stories so many times that he becomes the stories. They live on after him. And in that way he becomes immortal." -Will Bloom

"You become what you always were - a very big fish." -Will Bloom

(The saddest scene ever when Will finally told his dad how did he go. Tentu saja, dongeng Will belum sebagus Edward, but it was very touching! Terutama scene terakhir dimana Sandra menunggu Edward di tepi sungai. Dan ketika acara pemakaman ayahnya, tamu-tamu yang berdatangan adalah rekan-rekan ayahnya yang selama ini menjadi tokoh dalam dongeng-dongengnya. Mereka nyata.)

If you can't be a big fish in ocean, try to be a big fish in a small pond. Get it? Manusia pergi meninggalkan nama, ukirlah namamu dengan baik, and you'll become immortal.
0

3 Hati 2 Dunia 1 Cinta: Sebuah Bentuk Pluralisme Sederhana



Judul: 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta
Sutradara: Benni Setiawan
Pemeran: Reza Rahadian, Laura Basuki, Arumi Bachsin, Ira Wibowo, Robby Tumewu, Henidar Amroe, Rasyid Karim, Zainal Abidin Domba



Disini saya nggak mau mengulas film dari segi 'dunia perfilmannya'. 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta bisa jadi film yang mengangkat tema pluralisme dengan cerita cinta yang cukup baik. Dibandingkan dengan film '?' (Tanda Tanya) yang memang berakhir penuh tanya.


Berkisah tentang Rosyid, pemuda Betawi-Arab yang menjalin cinta dengan Delia (keliatannya sih campur-campur ada Tionghoa dikit sama Menado ya?). Cinta mereka terhalang dengan keyakinan yang berbeda sehingga tidak mendapat restu dari orang tua. Film ini bernuansa drama komedi, jadi cocok ditonton untuk santai dan nggak perlu banyak mikir.

Baca-baca review di blog tetangga, ada yang berpendapat bahwa ending film ini kurang berani. Ada juga yang bilang kalo film ini nggak mencontohkan seorang muslim, telalu global dsbnya lah (mungkin pengennya film cinta kayak Ayat-Ayat Cinta kali yaa -_-).
Mungkin memang terkesan tidak berani mengambil ending Delia masuk agama Rosid atau Rosid yang masuk agama Delia. Tapi menurut saya ending tersebut bisa dibilang manis. Kenapa? Karena keduanya adalah orang-orang yang cukup taat terhadap agamanya masing-masing. Kemungkinan kecil bahwa salah satunya akan pindah agama, dan penonton benci sad ending. Pilihan mereka adalah ikuti air mengalir, toh mereka masih muda, belum tentu juga berjodoh. Di akhir film dituliskan dengan siapa akhirnya mereka menikah. Ketiganya punya jodohnya masing-masing.

Terlalu global? Liberal? Karena melawan orang tua? Menurut saya realistis. Film bukan hanya menggambarkan segala kebaikan, yang bijak, contoh harus seperti apa kita. Film adalah menggambarkan bagaimana tokohnya terjatuh ke lubang gelap dan berhasil keluar dan menjadi lebih bijak. Sama seperti kita, manusiawi. Kamu mau tokoh lelaki sempurna seperti Fahri Ayat-Ayat Cinta? Rasanya seperti menonton dongeng Cinderella, dimana keduanya sempurna dan cinta mereka begitu suci... naif.

Realistis ketika kita jatuh cinta dengan orang yang jelas berbeda dengan kita. Tidak masuk akal rasanya. Tapi begitulah ketika kita jatuh cinta, terkadang kita tidak bisa memilih. Adalah ketika kita merasa benar, ketika kita merasa sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan dan merasa punya hak untuk mengambil keputusan, untuk tidak membiarkan orang tua mengontrol hidup kita. Ketika kita masih muda tentu banyak godaan untuk menentang orang tua karena tak sejalan, takut jika orang tua mengontrol hidup kita, idealis, naif, sok. Tanpa sadar, orang tua kadang memang tau yang terbaik untuk kita. Mereka sudah makan asam garam kehidupan lebih banyak dari kita.


Inilah pelajaran yang dipaparkan film ini, bahwa kita anak muda senantiasa merasa bahwa kita sudah tau apa pilihan-pilihan hidup kita. Walau sebenarnya kita pun masih mencari. Orang tua juga tidak perlu mengekang anaknya, biarkan kita bebas, tapi tetap tugas orang tua adalah 'memegang buntut kita'. Ketika Rosid yakin bahwa pernikahan beda agama itu dibolehkan, orang tua yang bijak tentu mengingatkan betapa beratnya pernikahan. Kita seringnya lupa, bahwa cinta bukan hanya sekedar fantasi atau romantisme. Bagaimana jika dalam rumah tangga ada hal beda prinsip, beda pendapat saja berat.

Bukan, saya bukan kolot atau ngurusin masalah hubungan orang. Semua itu pilihan kita. Tapi dunia sosial dan aqidah tetap saja nggak bisa disatukan. Harus ada pembatas. Ini melihat agama secara modern tapi tetap berpegang pada ajarannya. Ini adalah pluralisme, tapi tidak liberal. Mengingatkan tapi menghargai.



  • Rosid (Reza Rahadian): "Apa benar Allah melarang pernikahan beda agama?"
  • Ami / Paman / Ayah Mahdi (Haddad Alwi): "Emang situ Tuhannya siapa?"
  • Rosid: "Allah"
  • Ami: "Di islam, kalau laki-lakinya muslim ada yang boleh. Ada juga yang nggak boleh. Tapi kalau laki-lakinya non muslim banyak yang nggak boleh. Nah, Rosid apa udah paham bener agama Rosid? Doa Rosid? Jangankan Osid, Ami yang udah seumuran begini belum berani jawab, Sid. Ami terus mencari, belajar memperbaiki diri. Karna Masya Allah, Sid, kita belum ada seujung kuku ngejalanin perintah agama kita dengan benar. Maksud Ami, Sid, kalau Osid belom paham bener, jangan dulu sok pintar, sok tau, atau buat kesimpulan sendiri tentang agama kita."
  • Rosid: "Harusnya Abah denger ini. Kadang-kadang Abah suka sok tau."
  • Ami: "Sama kayak Rosid, Osid tadi yakin banget kalau nikah beda agama itu boleh. Positif thinking, Sid, bukan cuma dari segi agama, dari segi aspek lain juga. Osid pikirin dengan mata batin Osid, istikharah kalau perlu. Karena yang bakal Osid jalanin ini nggak main-main. Yang seagama aja berat, apalagi beda."
0

Sabrina (1954): She's Back, Then She Rules The Larrabees


Director: Billy Wilder
Stars: Humphrey Bogart, Audrey Hepburn, William Holden
Rating IMDB: 7.8/10


Mengisahkan tentang Sabrina Fairchild (Audrey Hepburn), anak perempuan seorang supir yang bekerja untuk keluarga Larrabee (keluarga terpandang dan punya banyak perusahaan). Sabrina jatuh cinta dengan anak majikannya, David Larrabee (William Holden) sejak kecil. David Larrabee adalah seorang playboy, berbeda dengan kakaknya, Linus Larrabee (Humphrey Bogart), seorang direktur yang sangat serius dan dingin. Bagi Linus, istrinya adalah perusahaannya, perempuan baginya haruslah mengerti bahwa perusahaannya lebih penting dari apapun. David sebaliknya, ia lebih senang menjadi 'social butterfly' di pesta dan merayu gadis-gadis. Sabrina hanya bisa menatapnya di atas pohon tiap kali David merayu gadis-gadis cantik di pesta.


Untuk melupakan angan-angannya akan David, Sabrina 'kabur' ke Paris untuk sekolah masak. Cukup lucu melihat scene ini, perfilman jaman dulu melakukan setting Paris dengan sangat sederhana. Hanya menempelkan layar bergambar menara Eiffel seolah-olah terlihat dari jendela :). Saat kembali ke Amerika, Sabrina berubah menjadi sophisticated woman, anggun dan berkelas. Sehingga David yang sudah bertunangan pun suddenly jatuh cinta dengan Sabrina. Keluarga Larrabee menentang hal ini, karena tujuan pertunangan David adalah untuk 'mengawinkan' salah satu anak perusahaan Larrabee dengan perusahaan milik keluarga Elizabeth Tyson (Martha Hyer), tunangan David. Linus pun turun tangan untuk mendekati Sabrina yang tujuannya adalah mengusir Sabrina pelan-pelan. Namun dalam perjalanan 'mengurus' Sabrina, Linus dan Sabrina sama-sama jatuh cinta.

Sama seperti post saya beberapa waktu yang lalu, realitanya inner beauty selalu jadi nomer 2. Inilah yang dialami oleh Sabrina Fairchild. Padahal dulu Sabrina juga cantik tapi karena tidak terlihat 'wah' dan tidak sederajat dengan kaumnya David hanya memandangnya sebelah mata. Ketika Sabrina kembali dari Paris dan menjadi lebih anggun serta berkelas, semua orang baru menyadari keberadaannya. Tapi Linus jatuh cinta dengan Sabrina bukan karena Sabrina adorable saja, baginya, Sabrina itu perhatian, polos dan baik hati. Inilah yang sering kali terjadi di sekitar kita. Seringkali kita lihat orang dari parasnya duluan. Beda dengan cara Linus melihat Sabrina. Dia bisa suka dengan Sabrina karena dia akhirnya kenal dan tau pribadi Sabrina kayak apa. They said, "tak kenal maka tak sayang". Kalo ditilik lagi, mungkin kalau Sabrina akhirnya jadi sama David, dia nggak bahagia. Pastinya dia harus berbesar hati kalau David flirting lagi sama perempuan lain. Sabrina mungkin akhirnya merasa kalau cintanya dia ke David itu akhirnya cuma obsesi dari dulu bukan true love. It said, "But it's his more serious brother who would be the better man for her."

Tipikal film tahun 50-an, sedikit bertele-tele, lucu, tidak penuh intrik dan romantis. Cocok untuk ditonton malam-malam pas susah tidur (soalnya pasti ngantuk hehehe).
0

Mean Girls VS 'Mean Girls' 2



"Ketika outline cerita Mean Girls itu 'cewek bgt' (tukang gossip, backstabbing, gila diet) bkn saing2an populer dan akal2an yg aneh & licik." - @aqessa, 23 Jan 2012, via twitter

Kemarin baru nonton Mean Girls 2 dan filmnya, asli, jelek banget! (rating di IMDB juga cuma 4/10). Beda sama Mean Girls yang orginal (maklum lah yang buat juga Tina Fey). Mean Girls 2 lebih aneh, terlalu banyak manipulatif, dan inti ceritanya cuma sirik-sirikan.

Mean Girls yang original ceritanya khas 'cewek banget', gila diet, gossip, backstabbing, catfight. Bukan cuma tanding popularitas dan sirik-sirikan. Nuansa filmnya juga sangat remaja dan natural. Intriknya pun nggak murahan dan sama dengan realita di sekitar kita. Dibumbui dengan humor yang makin membuat film ini menarik. Pemainnya pun nggak sebaik Lindsay Lohan, Rachel McAdams, Lacey Chabert,dan Amanda Seyfried. Mean Girls 2 film dengan budget rendah, cuma memakai label 'Mean Girls' dan 'The Plastics' supaya tenar, padahal ceritanya jauh dari konsep 'Mean Girls' yang sebenarnya.
Jadi buat yang belum nonton Mean Girls 2, lebih baik nggak usah nonton daripada merusak image Mean Girls yang asli. Nggak ngerti lagi kenapa teen pop queens sekarang (yang mostly anak Disney dan Nickelodeon) nggak ada yang sebagus Lindsay Lohan atau Hilary Duff.
0

Mona Lisa Smile: Does She Really Smile?


Director: Mike Newell
Stars: Julia Roberts, Kirsten Dunst, Julia Stiles, Maggie Gyllenhaal, Ginnifer Goodwin
Rating IMDB: 6.1/10

Mona Lisa Smile menceritakan tentang Katherine Ann Watson (Julia Roberts) yang mengajar mata kuliah "History of Art" di Wellesley College, sebuah kampus yang konservatif di Massachusetts. Katherine ingin membuat sebuah perubahan untuk generasi Wellesley selanjutnya. Kathrine mengenal beberapa mahasiswinya dan ingin menginspirasi mereka untuk dare to reach their dream instead of get married soon. Lewat seni, Katherine menginspirasi para mahasiswinya untuk berani mengekspresikan diri mereka.
Empat mahasiswi Katherine memiliki masalah-masalahnya masing-masing. Joan Brandwyn (Julie Stiles) seorang mahasiswi 'straight A', ingin mengambil postgraduate school jurusan hukum di Yale. Katherine sangat mendukung Joan dengan mengirimkan berkas aplikasi law school. Namun akhirnya Joan memilih kawin lari dengan pacarnya dan tidak mengambil sekolah hukum tersebut meski dia akhirnya diterima disana. Ia bahagia atas pilihannya. Keinginan Joan adalah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya setelah ia lulus dari Wellesley.
Betty Warren (Kirsten Dunst) adalah yang paling konservatif seperti ibunya diantara mereka. Sering kali Betty kontra pendapat dengan Katherine dan pernah sekali menulisnya di editorial koran kampus. Betty menikah dengan Spencer (sesuai dengan tradisi perjodohan keluarganya) sebelum ia lulus dari Wellesley. Namun rupanya rumah tangganya tidak berjalan mulus.
Connie Barker (Ginnifer Goodwin) berkencan dengan sepupu Betty. Connie yang tadinya tidak percaya diri, akhirnya benar-benar merasakan jatuh cinta, sampai ketika Betty memberi tahu bahwa Charlie bertunangan dengan perempuan lain. Yang akhirnya ternyata Charlie telah menggagalkan pertunangannya ketika berkencan dengan Connie.
Giselle Levy (Maggie Gyllenhaal) berpandangan hidup liberal, sehingga ia sangat terinspirasi oleh Katherine. Kehidupan rumah tangga orang tuanya yang berantakan membuat Giselle kurang 'picky' dalam memilih pria dalam hidupnya. Ia pernah mempunyai affair dengan professornya dan menjadi wanita simpanan pria beristri.

Kalau saya menjadi mahasiswi Wellesley saat itu saya pasti terinspirasi dengan Kathrine Wilson. Independent woman, knows what she really wanted in her life. Di tahun itu tentu sulit bagi perempuan untuk mengemukakan keinginannya yang berbeda dengan tradisi pertunangan dan pernikahan. Pastilah yang 'beda' tersebut akan dipandang sebelah mata. Beruntunglah kita hidup di era 'proud to be a successful independent single woman', kita jauh lebih bebas untuk memilih karir ketimbang menjalankan kewajiban sebagai istri dan ibu di usia muda.


Hal ini biasa terjadi ketika kita mau memilih masa depan kita. Ketika orang-orang sekitar kita mulai 'memaksa' kita untuk mengikuti tradisi keluarga atau lingkungan. Kita punya hak untuk menjadi berbeda dengan sekitar (jika kita yakin). Katherine menginspirasi kita untuk memilih keinginan kita, yang mana ia menekankan bahwa setiap perempuan haruslah smart dan berkesempatan juga menjadi pemimpin (bukan hanya jadi istri seorang pemimpin). Pada jamannya, mengenyam pendidikan sampai sarjana S1 sangatlah tinggi dan membanggakan. Jangan jadikan gelar sebatas topeng bahwa kita bukan orang bodoh dan berkelas, manfaatkan gelar tersebut dengan sebaik mungkin. Sudah tahunnya kita perempuan muda bisa memanfaatkan gelar pendidikan kita dengan baik, tak perlu jadi pemimpin hebat, paling tidak gelar tersebut bisa menyenangkan kita. But if you choose to married in young age like Joan, that is okay, as long as it's one of your biggest dream.


Di era kita, sesuatu yang ingin kita raih tidak berarti harus dunia pendidikan saja, bisa juga passion kita di tempat lain. Apapun itu bentuknya untuk menjadi sukses. Pendidikan hanyalah sebagian modal untuk menunjang kita meraih mimpi-mimpi terliar kita. Selagi kita masih muda, single, dan tidak ada paksaan untuk menikah. Sebagai perempuan kita harus bisa mendesain mimpi-mimpi kita sesuai timeline, agar mimpi kita lebih terarah. Dosen Pengantar Bisnis saya pernah mengatakan bahwa sebagian besar perempuan sukses di mid-20 karena mereka kebanyakan mimpinya lebih terancang jelas dibanding laki-laki. Menikah tentu adalah impian setiap perempuan, tapi tentunya kita harus memikirkan matang-matang soal itu. Tentu kita sebagai perempuan ingin taraf hidup yang baik dan anak-anak kita memiliki pendidikan yang terbaik kelak. Sudah eranya perempuan pintar setara dengan laki-laki, punya hak untuk memilih keinginannya, independent dan meraih mimpi setinggi mungkin. Bukan berarti kita perempuan melupakan kodratnya sebagai seorang (calon) istri dan ibu. Perempuan bukan hanya penghias rumah tangga, tapi juga penyemangat; penyokong, dalam meraih mimpi terindah keluarganya.
0

copyright © . all rights reserved. designed by Color and Code

grid layout coding by helpblogger.com